Kalau saja kita melihat semua foto ini, lalu apa yang terlintas di benak
kita semua? binatang yang hanya dibekali naluri tanpa akal pikiran saja
mampu melakukannya bagaimana manusia? bagaimana bisa ada kisah seorang
ibu membuang janin bayi yang dikandungnya lantaran membuat aib baginya,
bagaimana bisa ada seorang ibu yang tega menganiaya anaknya. Semoga kita
terhindar dari hal buruk seperti itu dan kembali hidup dalam kasih
Jumat, 25 Mei 2012
Kata Mutiara Wanita/Ibu
Seorang
wanita, ia mempunyai hati yang dapat dipercayai. Tidak satu haripun
direncanakannya kecurangan terhadap suami dan anak-anaknya.
Tangannya
berhiaskan kekuatan. Tak ada satu hari juga pun rumah tangganya ditimpa
kekurangan karena bijaksana ia. Penghasilan yang diterimanya diaturnya
begitu rupa untuk kebutuhan rumah tangga, untuk berinvestasi, di tempat
itu ia menanam dan dari tempat itu pula ia menuai hasilnya. Ia tersenyum
akan hari esok.
Harta
rumah tangganya bertambah, namun hatinya tak melekat padanya. Ia
mengulurkan tangan kepada yang membutuhkan dan memberikan hatinya disaat
ia menolong. Ia tahu, bahwa ia bertanggung jawab untuk menyalurkan apa
yang dipercayakan oleh Sang Pemilik Hidupnya.
copy
Kamis, 24 Mei 2012
Keutamaan dan Kasih Sayang Ibu
5
Hikam :“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia. Dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan perkataan “ah”, dan janganlah kamu membentak mereka. Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra: 23).
Dari Abu Hurairah, dia berkata, telah dating kepada Rasulullah saw, seorang laki-laki lalu bertanya:, “Wahai Rasulullah, siapakah yang lebih berhak untuk saya pergauli dengan baik?” Beliau menjawab, “Ibumu” dia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu” dia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu” dia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Ayahmu”. (HR Muslim)
Dari isi Hadist terlihat betapa Allah melalui Rasulullah menilai besarnya pengorbanan orang tua kita terutama Ibu. Apa yang sudah ibu berikan kepada anaknya tidak dapat dibandingkan dengan apapun di dunia ini.
Orang tua, terutama ibu harus selalu kita hormati sepanjang hidup kita. Walaupun itu bukan orang tua kita sendiri. Kalau kita menghormati semua orang tua, berarti kita menghormati orang tua kita. Begitu juga bila kita memaki orang tua yang bukan orang tua kandung, maka berarti kita memaki orang tua kita sendiri.
Memuliakan orang tua kita bukan dengan memberinya harta yang berlimpah. Tetapi akhlak yang baik dari anak-anaknya sudah membuat orang tua kita damai dan senang. Harta tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan akhlak yang baik.
Kita sebagai anak harus memohon, berjuang sekuatnya kepada Allah bila orang tua kita belum mendapat hidayah dari Allah. Dan kita harus selalu menerima segala kekurangan orang tua kita dengan lapang dada.
Artikel kesukaan
Ibuku Sayang
Posted by meisusilo pada 20 Maret 2009
Menjelang sore
“Nak tolong angkatin panci, airnya sudah mendidih” bergegas saya melaksanakan permintaan ibu untuk pancinya. Tidak lama kemudian,
“Eh, tolongin Ibu bawa ember ini ke teras, Ibu mau menyiram bunga”. Sebuah ember putih ukuran sedang telah terisi air, juga setengahnya. Segera saja aku bisa memindahkannya kehalaman depan dengan mudahnya. Kupandangi bunga-bunga yang tumbuh disitu, Subur dan terawat. Sedari dulu Ibu suka sekali menanam bunga. Kembali ibu memintaku melakukan sesuatu “Nak, Ibu baru saja mencuci, peras dulu, abis itu jemur yah” pinta Ibu.
“Eh, tolongin Ibu bawa ember ini ke teras, Ibu mau menyiram bunga”. Sebuah ember putih ukuran sedang telah terisi air, juga setengahnya. Segera saja aku bisa memindahkannya kehalaman depan dengan mudahnya. Kupandangi bunga-bunga yang tumbuh disitu, Subur dan terawat. Sedari dulu Ibu suka sekali menanam bunga. Kembali ibu memintaku melakukan sesuatu “Nak, Ibu baru saja mencuci, peras dulu, abis itu jemur yah” pinta Ibu.
“Eh, bantuin Ibu potongin daging ayam” sekilas aku
memandang wajah beliau yang tengah bersusah payah memasak. Tumben Ibu
begitu banyak meminta bantuan, biasanya beliau anteng dan cekatan dalam
segala hal.
Sore harinya ketika sedang menemaninya tilawah
selepas maghrib. Tangan Ibu gemetar memegang penunjuk menelusuri tiap
huruf al-qur’an. Dan mata ini memandang lekat pada jemarinya. Tangan itu
terus bergetar. Aku berpaling, menyembunyikan bening kristal yang
tiba-tiba muncul di kelopak mata ini. kesedihan itu muncul seketika
entahlah, tiba-tiba aku merasa sangat rindu pada ibu.
“Dingin bu..” bisikku manja sambil beringsut
membenamkan kepala di pangkuan beliau. Ibu masih terus tilawah, sedang
tangan kirinya membelai hangat kepalaku. Aku memeluknya, merengkuh
banyak kehangatan yang dilimpahkannya tak berhingga.
Adzan isya berkumandang memecah keheningan, Ibu
berdiri di sampingku, bersiap menjadi imam. Tak lama suaranya memenuhi
udara mushala kecil rumah. Usai shalat, Aku menunggunya membaca wirid,
dan seperti tadi kupandangi lagi tangannya yang terus bergetar. “Duh
Allah, Sayangi Ibuku” spontan aku terenyuh memohon kepada Alloh. “Nak..”
Panggil ibu lembut membuyarkan lamunan, kini tangan kanan beliau
terjulur di hadapanku. Kebiasaan saat selesai shalat, kurengkuh tangan
berkah itu dan menciumnya berkali. tiba-tiba aku merasakan ada yang
salah dengan tangan ibu “Tangan ibu kenapa?” tanyaku pelan. Ibu hanya
tersenyum hangat.
Udara semakin dingin. Bintang-bintang di langit kian
gemerlap berlatarkan langit biru tak berpenyangga. Sejenak kupandangi
langit dari teras depan rumah. Oh bulan yang merekah merah, menambah
kerinduanku pada Ibu dan rumah ini, terasa syahdu malam itu.
Malam perlahan beranjak menjauh. Dalam hening itu,
kubayangkan senyuman manis Ibu sehabis shalat isya tadi. Apa maksudnya?
Dan mengapakah, aku seperti melayang. Telah banyak hal yang
dipersembahkan tangan suci beliau untukku. Tangan yang tak pernah
mencubit, sejengkel apapun perasaannya menghadapi kenakalanku saat kecil
hingga beranjak dewasa. Tangan yang selalu berangsur ke kepala dan
membetulkan rambut ketika aku tergesa pergi sekolah. Tangan yang selalu
dan selalu mengelus lembut ketika aku mencari kekuatan dipangkuan beliau
ketika hati ini bergemuruh gundah gulana. Tangan yang selalu menengadah
ketika memohon kepada Allah untuk setiap ujian yang aku jalani. Tangan
yang sama yang selalu membuatkan pernak-pernik bunga dari pita-pita
berwarna dan menyimpannya di meja belajarku ketika aku masih kecil, kata
ibu waktu itu biar aku lebih semangat belajar. Dan ketika aku beranjak
pergi untuk menuntut ilmu dan harus tinggal jauh darinya, pesannya
selalu saja datang padaku. Dalam pesannya, Ibu selalu menyisipkan puisi.
Ada sebuah puisinya yang sangat aku sukai. Ibu memang suka menyanjung :
Kau adalah gemerlap bintang di langit malam, Bukan!, kau lebih dari itu
Kau adalah pendar rembulan di angkasa sana, Bukan!, kau lebih dari itu,
kau adalah benderang matahari di tiap waktu, Bukan!, kau lebih dari itu
Kau adalah Sinopsis semesta, Itu saja.
Kau adalah pendar rembulan di angkasa sana, Bukan!, kau lebih dari itu,
kau adalah benderang matahari di tiap waktu, Bukan!, kau lebih dari itu
Kau adalah Sinopsis semesta, Itu saja.
Tangan ibunda adalah perpanjangan tangan Alloh. Itu
yang aku baca dari sebuah buku. Jika aku renungkan, memang demikian.
Tangan seorang ibu adalah perwujudan banyak hal : Kasih sayang,
kesabaran, cinta, dan ketulusan..
Pernahkah ia pamrih setelah tangannya menyajikan masakan di meja makan untuk sarapan?
Pernahkan Ia meminta upah dari tengadah jemari ketika
mendoakan anaknya agar diberi Alloh banyak kemudahan dalam menapaki
hidup?
Pernahkah Ia menagih uang atas jerih payah tangannya membereskan tempat tidur kita?
Pernahkah ia mengungkap balasan atas semua persembahan tangannya?..
Pernahkah. .?
Ketika akan meninggalkannya untuk kembali, Aku masih
merajuknya “Bu, kembalilah ke rumah,”. “Ah, Ada ayah disini. Dia menjaga
Ibu dengan baik di sini. Kamu yang seharusnya sering datang, Ibu akan
lebih senang” Jawabannya ringan. Tak ada air mata seperti dulu saat aku
melepasnya pergi. Ibu tampak lebih pasrah, menyerahkan semua kepada
kehendak Alloh.
Sebelum pergi, kurengkuh kembali punggung tangan
beliau selagi sempat, kureguk seluruh keikhlasan yang pernah
dipersembahkannya untukku. Selagi sisa waktu yang kumiliki masih
terhampar, kuciumi tangganya penuh takzim. Aku takut, sungguh takut, tak
dapati lagi kesempatan meraih tangan beliau, meletakannya dikeningku.
Entahlah kepulanganku kali ini terasa lain
Dan ternyata semua pertanyaan dan keherananku
terjawab sudah. Semuanya sudah berakhir. Perjalanan hidup ibu sudah
ditutup hanya kenangan-kenangan itu yang tertinggal.
Ibuku sayang….
Aku tau dari sana kau juga membaca tulisan ini dan
menemukan apa yang tidak tersurat sebagaimana cerita-cerita lalu yang
aku keluhkan padamu disetiap kepulanganku. Aku berharap bisa menemukan
wajahmu disetiap ruang dalam mimpiku.
Ibuku sayang…
Terimakasih atas segala cinta yang telah ibu berikan padaku selama ini. tak perlu khawatir bu, kalaupun yang ibu maksud adalah kebahagiaanku, aku bahagia telah merasakan kebahagiaan itu. Aku bahagia dengan hidupku selama ini aku menemukan cinta itu darimu Bu. Semua tak akan sama sejak kepergiannmu.
Terimakasih atas segala cinta yang telah ibu berikan padaku selama ini. tak perlu khawatir bu, kalaupun yang ibu maksud adalah kebahagiaanku, aku bahagia telah merasakan kebahagiaan itu. Aku bahagia dengan hidupku selama ini aku menemukan cinta itu darimu Bu. Semua tak akan sama sejak kepergiannmu.
I LOVE YOU MOM...
* Apabila anak Adam wafat putuslah amalnya kecuali
tiga yaitu sodaqoh jariyah, pengajaran dan penyebaran ilmu yang
dimanfaatkannya untuk orang lain, dan anak yang mendoakannya. (HR.
Muslim)
* “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan
menyembah selain Dia. Dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu
bapakmu dgn sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara kedua atau
kedua-dua sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu maka sekali-kali
janganlah kamu mengatakan perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak
mereka. Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yg mulia.” .
* Dari Abu Hurairah dia berkata telah datang kepada
Rasulullah saw seorang laki-laki lalu bertanya: “Wahai Rasulullah
siapakah yg lebih berhak untuk saya pergauli dengan baik?” Beliau
menjawab “Ibumu” dia bertanya lagi “Kemudian siapa?” Beliau menjawab
“Ibumu” dia bertanya lagi “Kemudian siapa?” Beliau menjawab “Ibumu” dia
bertanya lagi “Kemudian siapa?” Beliau menjawab “Ayahmu”.
Allahummaghfirlanaa wali-waalidainaa warhamhumaa kamaa rabbayanii
shaghiiraa. Laa ilaaha illaa annta subhaanaka inni kunntu
minazhahaalimin. Laahaula walaa quwwata illaa billaahil ‘Aliyyil ‘Adhiim
Amin..
Referensi : disadur ulang dari Dear Ibuku Sayang
Technorati Tags: Kisah Teladan,Hikmah
Ibu Sud
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Ibu Soed |
|
| Latar belakang | |
|---|---|
| Nama lahir | Saridjah Niung |
| Lahir | 26 Maret 1908 |
| Meninggal | 1993 (85 Tahun) |
| Pekerjaan | Pemusik, guru musik, komponis, penyiar radio, dramawan, seniman batik |
| Pendidikan | Hoogere Kweek School Bandung Pendidikan Seni Suara dan Musik |
| Tahun aktif | 1927–1993 |
| Pasangan | R Bintang Soedibjo |
Senin, 21 Mei 2012
Biografi R.A Kartini
Raden
Ajeng Kartini lahir pada 21 April tahun 1879 di kota Jepara, Jawa
Tengah. Ia anak salah seorang bangsawan yang masih sangat taat pada adat
istiadat. Setelah lulus dari Sekolah Dasar ia tidak diperbolehkan
melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi oleh orangtuanya. Ia
dipingit sambil menunggu waktu untuk dinikahkan. Kartini kecil sangat
sedih dengan hal tersebut, ia ingin menentang tapi tak berani karena
takut dianggap anak durhaka. Untuk menghilangkan kesedihannya, ia
mengumpulkan buku-buku pelajaran dan buku ilmu pengetahuan lainnya yang
kemudian dibacanya di taman rumah dengan ditemani Simbok (pembantunya).Akhirnya membaca menjadi kegemarannya, tiada hari tanpa membaca. Semua buku, termasuk surat kabar dibacanya. Kalau ada kesulitan dalam memahami buku-buku dan surat kabar yang dibacanya, ia selalu menanyakan kepada Bapaknya. Melalui buku inilah, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir wanita Eropa (Belanda, yang waktu itu masih menjajah Indonesia). Timbul keinginannya untuk memajukan wanita Indonesia. Wanita tidak hanya didapur tetapi juga harus mempunyai ilmu. Ia memulai dengan mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk diajarkan tulis menulis dan ilmu pengetahuan lainnya. Ditengah kesibukannya ia tidak berhenti membaca dan juga menulis surat dengan teman-temannya yang berada di negeri Belanda. Tak berapa lama ia menulis surat pada Mr.J.H Abendanon. Ia memohon diberikan beasiswa untuk belajar di negeri Belanda.
Beasiswa yang didapatkannya tidak sempat dimanfaatkan Kartini karena ia dinikahkan oleh orangtuanya dengan Raden Adipati Joyodiningrat. Setelah menikah ia ikut suaminya ke daerah Rembang. Suaminya mengerti dan ikut mendukung Kartini untuk mendirikan sekolah wanita. Berkat kegigihannya Kartini berhasil mendirikan Sekolah Wanita di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini”. Ketenarannya tidak membuat Kartini menjadi sombong, ia tetap santun, menghormati keluarga dan siapa saja, tidak membedakan antara yang miskin dan kaya.
Pada tanggal 17 september 1904, Kartini meninggal dunia dalam usianya yang ke-25, setelah ia melahirkan putra pertamanya. Setelah Kartini wafat, Mr.J.H Abendanon memngumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada para teman-temannya di Eropa. Buku itu diberi judul “DOOR DUISTERNIS TOT LICHT” yang artinya “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Saat ini mudah-mudahan di Indonesia akan terlahir kembali Kartini-kartini lain yang mau berjuang demi kepentingan orang banyak. Di era Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20, wanita-wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Mereka belum diijinkan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi seperti pria bahkan belum diijinkan menentukan
Rabu, 16 Mei 2012
Arti Ibu Dimataku
Bila ada pepatah surga di telapak kaki ibu, mungkin itu adalah gambaran yang paling mulia untuk setiap pengorbanan yang telah beliau lakukan terhadap anak- anaknya. Tak hanya sebagai sosok yang lembut, ibu adalah seorang pendamping yang kuat bagi ayah untuk selalu menyemangati dikala pekerjaan kantor atau usaha sedang pasang surut.
Dimataku, ibu adalah segalanya. Pengorbanan
terbesar dalam melahirkanku membuat dirinya mempertaruhkan seluruh
nyawa. Bahkan setelah diriku lahir kedunia, ibu dengan penuh kesabaran
selalu setia merawat ku sampai besar. Selama hidupnya perjuangan ibu tak
kenal lelah, demi membantu ayah, ia pun rela ikut bekerja dari subuh
hingga malam. Kadang kita sering membuat ibu bersedih dengan perbuatan
yang kita lakukan, dan sering berkata tidak sopan sehingga menyakiti
hatinya. Namun, setiap lontaran kata yang menyakitkan tak pernah
diingatnya sebagai dendam.
Pendidikan yang lebih tinggi dari ibu terkadang
membuat kita menjadi sombong seperti kacang lupa pada kulitnya.
Contohnya saja, ketika Ia hanya bertanya bagaimana menggunakan handphone
atau sekedar menyalakan DVD. Pemikiran malu dan emosi seringkali
terlintas di benak kita. Tapi sadarkah, sikapnya yang tulus dan sabar
dalam mengajarkan kita pertama kali membaca dan selalu bertanya
kepadanya jika tak mengerti sejak kecil, hingga kita menjadi seorang
sarjana merupakan contoh nyata rasa sayang tiada akhir kepada seorang
anak.
Hari ini kusadari bahwa dirinya adalah sosok yang
paling mulia. Seorang ayah mengajarkan kita bagaimana bertanggung jawab,
tetapi seorang ibu yang menunjukan bagaimana cara mencintai dengan
penuh cinta kasih. Pintanya tak banyak, hanya hidup rukun dalam
bersaudara. Terimakasih untuk setiap doa yang selalu kau panjatkan
setiap malam agar kami selalu hidup dalam penyertaan-Nya.
Jumat, 11 Mei 2012
Untukmu Ibu
Kuterbangun menatap langit langit kamarku
Terlintas di benak sosok engkau
Yang selalu menemaniku menjemput pagi
Yang selalu menemaniku menikmati panasnya sinar matahari
Yang selalu menemaniku menyaksikan bulan dan bintang
Dan kembali mengantarku ke dalam tidur yang panjang
Semua itu kini tak dapat lagi kurasakan
Karena saat ini ku jauh darimu
Mekipun sebenarnya ku tak bisa
Namun ku yakin semua itu akan berakhir
Ibu………..
Aku rindu dengan senyummu
Aku rindu dengan kasih sayangmu
Aku rindu dengan belai lembutmu
Aku rindu akan pelukmu
Ku ingin kau tahu itu
Ibu……….
Kau selalu ada
Di setiap hembusan nafasku
Di setiap langkah kakiku
Di setiap apa yang ku gapai
Karena kau begitu berarti dalam hidupku
Rinduku Abadi Untukmu
Hanya namamu yang kuteriakkan kuat-kuat, walau habis suara ini menjerit, walau tenggorokan kian kering berkerak.
Aku tahu engkau hanyalah buah mimpiku, karenanya aku titipkan rindu abadi untukmu.
Kurangkul erat bayangmu, karena dirimu bukanlah milikku.
Aku rela menggugurkan air mata demi melihat engkau tersenyum bahagia, karena kutahu senyummu untuk diriku walau nyatanya engkau bercanda dengan yang lain.
Walau aku tak bisa menjagamu, namun hatiku akan tetap dan selalu terjaga untukmu, rindu yang aku punya abadi untukmu, kuukir indah dengan namamu dialtar hatiku.
Disini… aku akan terus menanti sampai datang founa berganti dan biarpun terbujur tulangku ini, karena inilah keindahan rinduku untukmu walau mungkin tak dapat engkau rasakan sendiri….
Coretan rindu
Dan sebuah rindu yang hanya mungkin aku sendiri yang mengerti…
Karena dirimu tak mungkin ku miliki…
Seakan penantian yang tak berujung…
Ku tempuh jalan hidupku
Sambil berjanji dalam hati tuk selalu menyayangimu
Meski bayangmu selalu hadir dalam angan dan mimpiku
Kucoba tuk mengerti bahwa asa ini adalah asa yang tak bertepi
Dan kini….aku jatuh cinta lagi
Bila kau baca coretan ini
Jujur aku sangat merindukanmu
Walau tak pantas untukku berharap tentangmu
Karena kau bukan milikku
Kendati berat rasa rindu yang ada…
Tapi ini adalah realita…
Dan aku hanya bisa berucap…
aku sangat mencitaimu….
Langganan:
Postingan (Atom)




